Dari dulu hingga sekarang, buatku, tidak ada yang lebih melumatkan moral daripada berkendara melewati jalanan kota dengan segala hiruk pikuknya. Klakson yang memekakkan telinga, asap knalpot yang menusuk hidung, dan kerumunan manusia beserta kendaraan besinya yang melelahkan mata. Belum lagi tingkah laku pengendaranya yang membuatku menggelengkan kepala dan mengusap dada. Ini semua cukup membuat hati ciut untuk memulai hari.
Entah mengapa, berkendara membuat orang-orang menunjukkan sisi teregois mereka; menyalip secara tiba-tiba, menerobos lampu merah, menggerung kendaraan mereka. Kegilaan ini membuatku mudah menganggap mereka sebagai pengganggu yang seolah hidup hanya untuk menyusahkan orang lain dengan segala keegoisan mereka.
Ini membuatku kesulitan untuk melihat mereka sebagai manusia yang memiliki kehidupan serta perasaan dan juga berjuang untuk menjalani hidup. Itulah salah satu alasan utamaku lebih memilih menaiki transportasi umum daripada membawa kendaraan sendiri. Aku cukup duduk atau berdiri sambil mendengarkan podcast atau musik dan membiarkan sopir yang mengatasi kegilaan di jalanan.
Menaiki transportasi umum memang punya kekurangannya tersendiri: terhimpit banyak orang, waktu perjalanan yang lebih lama, tidak bisa langsung mencapai tujuan tertentu, dan lainnya. Namun, di balik itu semua, menaiki transportasi umum membuatku lebih menikmati kehidupan dan membumi.
Ada banyak hal yang bisa kuamati dari wajah-wajah lelah yang berkerumun di dalam bus ataupun kereta, membuatku membayangkan apa yang mereka pikirkan saat itu dan juga cerita kehidupan mereka. Interaksi-interaksi sederhana mereka memancing perhatianku; muda-mudi yang memberikan kursi mereka untuk lansia; seorang pria yang larut dalam film Netflix yang dia tonton di handphone-nya; tiga anak di KRL yang melambaikan tangan kepada pengendara kereta antar kota.
Pemandangan ini semua hampir mustahil disaksikan ketika membawa kendaraan pribadi dan hanya fokus pada jalanan yang sibuk dan juga tujuan. Mustahil bagi pemangku kebijakan untuk memahami dan berempati dengan orang-orang yang seharusnya mereka layani jika enggan berbaur bersama mereka di dalam transportasi umum.
Manusia memang dirancang untuk berinteraksi dan saling mendekatkan diri, bukan dikelilingi kerangka besi dingin yang membatasi dan menjauhkan diri dengan orang lain. Menaiki transportasi umum memang menyurutkan tenaga, tapi paling tidak, keyakinanku pada kemanusiaan orang-orang tidak ikut surut.