Sekitar 12 tahun yang lalu, saat aku masih kuliah di semester enam, aku memutuskan untuk mencoba pulang-pergi menaiki transportasi umum dari Jatinangor ke Bandung. Alasannya cukup idealis: aku ingin membantu memberikan penghasilan kepada pengemudi angkot dan bis. Maklum masih muda, jadi keinginan untuk mengutamakan idealisme masih berapi-api dan seakan-akan tidak akan pernah habis.
Namun, di luar idealisme itu, aku memang lebih menikmati menaiki transportasi umum ketimbang memakai kendaraan pribadi. Rasanya lebih menyenangkan dan menenangkan ketika kendali kendaraan dipegang orang lain. Biar mereka saja yang menghadapi kesintingan-kesintingan yang ada di jalanan. Aku cukup duduk (atau berdiri di bis kalau tidak beruntung) dan mengamati segala tingkah manusia yang ada di dalam maupun di luar kendaraan.
Sayangnya, menaiki transportasi umum (spesifiknya di Bandung) mengharuskan aku untuk mengorbankan dua hal. Pertama, waktu adalah hal yang sering kali harus dikorbankan karena menunggu pengemudi angkot mengetem untuk menunggu penumpang lain (aku paham kenapa mereka melakukannya, tapi tetap saja diri ini mendongkol harus menunggu lama). Akibatnya, perjalanan yang biasanya memakan waktu satu jam bisa sampai dua hingga tiga jam.
Kedua, biaya yang tidak jelas. Setiap pengemudi angkot punya perhitungan masing-masing untuk biayanya. Perbedaan biayanya memang tidak banyak, tapi, berhubung mudah berprasangka buruk, aku sering berpikiran kalau mereka mencurangiku. Memang itu pikiran yang agak picik, tapi mendapat perlakuan seperti itu membuatku cukup sebal, apalagi itu terjadi hampir setiap hari.
Namun, meski dengan segala kekurangan itu, aku berhasil memakai transportasi umum selama satu semester penuh. Pencapaian yang cukup lumayan bagi seseorang yang sudah bertahun-tahun memakai kendaraan pribadi. Walau tidak sepenuhnya menyenangkan, menaiki transportasi umum selama lima sampai enam bulan memberikanku banyak pemahaman baru tentang tata kota, angkutan umum, dan juga privilese kepemilikan kendaraan pribadi.
Sulitnya Mengakses Transportasi Umum

Karena ada motor andalanku, aku sering melupakan kemudahan yang diberikan oleh kendaraan pribadi. Dari pergi ke puskesmas dan mal hingga minimarket terdekat, aku mengandalkan kendaraan pribadi ke mana-mana. Sangatlah mudah untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut tanpa harus memikirkan naik apa untuk sampai di sana.
Setelah memakai transportasi umum selama beberapa hari, aku baru menyadari bahwa ternyata untuk mencapai jalan raya terdekat yang dilewati oleh angkot dan bus, aku harus menempuh jarak sekitar dua kilometer. Biasanya, itu hanya memakan waktu lima menit dengan motor. Namun, lain cerita ketika aku harus berjalan kaki. Untuk tiba di jalan raya terdekat saja sudah menghabiskan waktu sekitar setengah jam, belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kampusku dengan angkutan umum.
Aku bisa saja memakai ojek untuk sampai di jalan raya, tapi itu adalah suatu kemewahan bagi mahasiswa yang keuangannya saat itu sangat mepet. Situasi ini membuatku memikirkan orang-orang yang tidak memiliki kendaraan pribadi dan tidak mampu memakai ojek setiap hari. Bayangkan jika rumah mereka jauh dari jalan raya; mereka harus menghabiskan banyak tenaga dan waktu yang lama hanya untuk mencapainya.
Tak heran jika semakin banyak kendaraan bermotor yang ada di jalanan; untuk beraktivitas setiap hari banyak waktu, tenaga, dan uang yang perlu dikorbankan. Padahal, bergerak dan mencapai suatu tempat dengan mudah adalah hak setiap penduduk. Sayangnya, hal ini sering diabaikan oleh pembuat kebijakan, sehingga masalah aksesibilitas transportasi umum tetap menjadi isu yang belum teratasi di banyak kota di Indonesia.
Semrawutnya Tata Ruang Kota

Selain keterbatasan akses ke transportasi umum, rancangan tata ruang kota yang buruk juga berkontribusi kepada keterbatasan masyarakat dalam bergerak. Contohnya, minimnya fungsi dan juga kualitas trotoar yang tersedia di kota. Masih banyak area perkotaan yang tidak memiliki fasilitas trotoar. Kalaupun ada, trotoar tidak dibangun dengan baik dan tidak terintegrasi dengan angkutan umum.
Dampaknya, banyak trotoar yang sepi pejalan kaki sehingga mematikan fungsinya sebagai fasilitas kota dan juga membuatnya tidak terawat dengan baik. Pejalan kaki pun enggan menggunakannya, sehingga tempat-tempat seperti UMKM yang ada di sepanjang jalan kehilangan calon pelanggan. Padahal, tata ruang kota yang dirancang dengan baik dapat mendorong lebih banyak orang untuk berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum, yang pada akhirnya mengurangi kemacetan dan meningkatkan aktivitas ekonomi lokal.
Idealnya, kota dirancang untuk memudahkan mobilitas masyarakat, baik dengan transportasi umum maupun berjalan kaki. Hal ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan efisien bagi semua orang.
Kendaraan Pribadi yang Nyaman dan Berjutaan

Beralihnya masyarakat dari transportasi umum ke kendaraan pribadi juga dipengaruhi oleh minimnya perkembangan dan perawatan angkutan umum. Di Bandung, misalnya, selama 20 tahun terakhir, tidak ada moda transportasi baru yang berdampak signifikan terhadap mobilitas masyarakat. Akibatnya, kualitas angkutan umum semakin memburuk dan masyarakat secara bertahap beralih ke kendaraan pribadi.
Tentu sangat mudah menyalahkan masyarakat yang memutuskan untuk tidak memakai transportasi umum sebagai biang keroknya kemacetan di kota. Namun, siapa yang bisa bertahan menghadapi kualitas transportasi umum yang semakin menurun? Jika memiliki pilihan, tentu orang-orang akan memilih kendaraan pribadi yang lebih nyaman dan aman meski harus mengeluarkan biaya lebih.
Keputusan masyarakat untuk membeli dan memakai kendaraan pribadi juga tidak terlepas oleh minimnya kebijakan pemerintah yang mendukung transportasi umum. Sementara itu, industri otomotif terus memasarkan produk mereka secara agresif, menawarkan promo menarik yang sulit diabaikan. Akhirnya, masyarakat yang mampu membeli kendaraan pribadi pun berpindah, meninggalkan transportasi umum yang semakin terpinggirkan.
Harapan untuk Masa Depan Transportasi Umum
Sejujurnya, aku tidak punya banyak harapan untuk transportasi umum ke depannya. Namun, aku tetap berharap akan ada perubahan yang signifikan. Kehadiran moda transportasi baru saja tidak cukup; integrasi dengan infrastruktur kota yang memadai juga diperlukan agar transportasi umum dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat.
Pemkot Bandung telah merencanakan beberapa proyek transportasi baru, dan semoga ini menjadi awal yang baik untuk membangun sistem transportasi yang lebih inklusif. Meski ekspektasiku rendah, aku berharap dapat segera dikejutkan oleh kebijakan yang pro pengguna transportasi umum. Mungkin suatu saat aku bisa menulis artikel positif tentang kemajuan transportasi di kotaku. Semoga saja, ya.